Karakterisasi Nitroselulosa dari Pulp Larut Bambu Beema dan Bambu Industri

Frederikus Tunjung Seta(1*), Susi Sugesty(2), Reynaldo Biantoro(3)
(1) Center for Pulp and Paper, Ministry of Industry
(2) Center for Pulp and Paper, Ministry of Industry
(3) Center for Pulp and Paper, Ministry of Industry
(*) Corresponding Author
DOI: http://dx.doi.org/10.25269/jsel.v9i01.241

Abstract

Saat ini Indonesia masih mengandalkan impor nitroselulosa sebagai bahan baku propelan. Tujuan penelitian ini adalah mencari komposisi optimum pembuatan nitroselulosa untuk propelan dari bahan baku pulp larut bambu Beema dan Industri sebagai alternatif dari pulp larut kayu. Sebelum proses nitrasi, pulp larut bambu Beema dan bambu Industri mengalami proses perlakuan awal dengan menggunakan willey mill, pulp larut kemudian diayak dan diambil pulp dengan ukuran kurang dari 60 mesh. Pada proses nitrasi, perbandingan bahan kimia yang digunakan adalah formula 1 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 2,5:1:9,5), formula 2 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 3:1:7,5), dan formula 3 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 1:1:1,6). Hasil yang didapatkan pada penelitian ini pulp larut dari bahan baku bambu Beema dengan formula 3 mampu mendapatkan kadar nitrogen tertinggi (12,97%). Analisis Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR) menunjukkan adanya gugus nitro dan pada uji bakar juga menunjukkan bahwa nitroselulosa dapat terbakar dengan cepat. Akan tetapi, nilai kelarutan dalam aseton dan eter-alkohol nitroselulosa dari kedua jenis bambu menunjukkan bahwa distribusi kadar nitrogen pada proses nitrasi masih belum memenuhi standar.

Kata kunci: bambu, kadar nitrogen, nitroselulosa, pulp larut, propelan


Characterization of Nitrocellulose from Beema Bamboo and Industrial Bamboo Dissolving Pulp

Abstract

Currently, Indonesia still relies on imports of nitrocellulose as a propellant raw material. The objective of this research is to determine the optimum composition of nitrocellulose making for propellant from Beema bamboo pulp and Industrial bamboo pulp as an alternative of dissolving pulp from wood. Prior to the nitration process, both dissolving pulp of Beema bamboo and industrial undergo a pretreatment process using willey mill, the pulp then sieved and taken with a size less than 60 mesh. In the nitration process, the chemical composition used is  formula 1 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 2.5: 1: 9.5), formula 2 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 3: 1: 7,5) and the   formula 3 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 1: 1: 1,6). Result showed that dissolving pulp from Beema bamboo with third formula get the highest nitrogen content (12,97%). Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR)  analysis showed that all of the nitrocellulose have nitro group and with burning test also proved that nitrocellulose can be rapidly burdened. However, the solubility of  nitrocellulose in acetone and ethers-alcohols indicates that the distribution of nitrogen content in the nitration process is not meet the standard yet.

 

Keywords: bamboo, nitrogen content, nitrocellulose, dissolving pulp, propellant

Keywords

bambu; kadar nitrogen; nitroselulosa; pulp larut; propelan

Full Text:

PDF

References

Chen, C. et al. (2016) ‘Cellulose (Dissolving Pulp) Manufacturing Processes and Properties: A Mini-Review’, BioResources, 11(2), pp. 5553–5564.

Chen, H. (2014) Biotechnology of lignocellulose: Theory and practice, Biotechnology of Lignocellulose: Theory and Practice. doi: 10.1007/978-94-007-6898-7.

Fallah, F., Khorasani, M. and Ebrahimi, M. (2018) ‘Factors affecting the properties of nitrocellulose emulsions: A comparative study’, Carbohydrate Polymers. Elsevier Ltd., 189, pp. 267–272. doi: 10.1016/j.carbpol.2017.11.002.

Granström, M. (2009) Cellulose Derivatives : Synthesis , Properties and Applications.

https://kemenperin.go.id (Indonesia Kurang Bahan Baku Tekstil) (no date).

Kim, D. H. (2014) ‘Nitrocellulose’, in Wexler, P. (ed.) Encyclopedia of Toxicology. 3rd Editio. Academic Press, p. 5220. doi: 10.1016/B978-0-12-386454-3.00043-9.

Miranda and Fani, R. (2013) ‘Pembuatan Nitroselulosa dari Selulosa- α Pelepah Sawit dengan Variasi Waktu Nitrasi dan Rasio Bahan Baku Terhadap Asam Penitrasi’, (November), pp. 240–250.

Patrick, K. (2011) ‘The Dissolving Pulp Gold Rush’, Paper360, p. 8.

Pourmortazavi, S. M. et al. (2009) ‘Effect of nitrate content on thermal decomposition of nitrocellulose’, Journal of Hazardous Materials, 162(2–3), pp. 1141–1144. doi: 10.1016/j.jhazmat.2008.05.161.

Pramunditta, B. E. et al. (2012) ‘Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium sp.) dan Kapuk (Ceiba pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi’, Jurnal Teknik ITS, 1(1), pp. F41–F46. doi: 10.12962/j23373539.v1i1.504.

Purnawan (2010) ‘Optimasi Proses Nitrasi pada Pembuatan Nitro Selulosa dari Serat Limbah Industri Sagu’, Jurnal Rekayasa Proses, 4(2), pp. 30–34.

Saragih, E., Padil, P. and Yelmida, Y. (2014) ‘Pembuatan Nitroselulosa Dari Selulosa Hasil Pemurnian Pelepah Sawit dengan Hidrogen Peroksida (H2O2) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Propelan’, Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Riau (JOM FT UNRI), 1(1).

Seta, F. T., Sugesty, S. and Kardiansyah, T. (2014) ‘Pembuatan Nitroselulosa dari Berbagai Pulp Larut Komersial sebagai Bahan Baku Propelan’, Pembuatan Nitroselulosa dari Berbagai Pulp Larut Komersial, 4(02), pp. 97–106.

Sugesty, S. (2014) Dissolving Pulp dari Bambu Beema dan Bambu Industri sebagai Bahan Baku Serat Rayon Viskosa. Bandung (unpublished).

Sugesty, S., Kardiansyah, T. and Hardiani, H. (2015) ‘Bamboo as raw materials for dissolving pulp with environmental friendly technology for rayon fiber’, Procedia Chemistry ScienceDirect 3 rd International Seminar on Chemistry, 17, pp. 194–199. doi: 10.1016/j.proche.2015.12.122.

Vogelsanger, B. and Sopranetti, R. (2010) Testing of Nitrocellulose. STANAG 417. NITROCHEMIE.

Wibowo, H. B. (2007) ‘Potensi Pabrikasi Propelan Homogen di Indonesia’, Berita Dirgantara, 8(1), pp. 1–5.


Article Metrics


Abstract view : 6 times
PDF view : 5 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 JURNAL SELULOSA
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.