BIOPULPING BAMBU BETUNG MENGGUNAKAN KULTUR CAMPUR JAMUR PELAPUK PUTIH (Trametes versicolor, Pleurotus ostreatus dan Phanerochaete crysosporium)

Widya Fatriasari(1*), Sita Heris Anita(2), Faizatul Falah(3), Triyono Nugroho Adi(4), Euis Hermiati(5)
(1) UPT BPP Biomaterial LIPI, Jl. Raya Bogor KM 46 Cibinong Bogor 16911
(2) 
(3) 
(4) 
(5) 
(*) Corresponding Author

Abstract

This research was to study the pretreatment effect of mixed culture fungi (T.versicolor, P.ostreatus and P.crysosporium) of betung bamboo on quality of pulp kraft and to determine the effect of pretreatment compared to monoculture. Bamboo chips were inoculated at room temperature and analysed by SEM. Bamboo chips was cooked by kraft process and analysed its properties i.e yield, kappa number, delignification selectivity, freeness and pulp brightness. Results showed that mixed culture pretreatment of T.versicolor, P.ostreatus, dan
P.crysosporium gave better pulp quality compared to monoculture. Each fungi treatment gives different effect on pulp properties. Pulp yield was increased which compare to without fungi treatment. If three fungi species were mixed, it showed little positive effect on pulp properties. Mixed culture pretreatment can increased freeness. Meanwhile, pulp yield and delignification selectivity were increased, and kappa number was decreased. Fungi pretreatment can increase pulp brightness level compare to control. SEM image indicated a degradation of bamboo cell wall caused by fungi activity. The longer incubation time reduced kappa number and improved pulp yield and delignification selectivity. The highest pulp quality is by a co-culturing T.versicolor and P.crysosoporium on 30 days incubation.

Key words : white rot fungi, mixed culture, kraft pulping, betung bamboo, pulp quality

 

INTISARI

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh perlakuan kultur campur jamur T. versicolor, P.ostreatus dan P. crysosporium pada bambu betung dengan proses pemasakan kraft terhadap kualitas pulp. Selain itu, untuk mengetahui perbedaan pengaruhnya terhadap kualitas pulp yang dihasilkan dari perlakuan kultur tunggal. Bambu diinokulasi pada suhu ruang dan dianalisa dengan SEM. Bambu dimasak dengan proses kraft dan dianalisa kualitas pulp berupa rendemen pulp, bilangan kappa, selektifitas delignifikasi, derajat giling, dan derajat putih. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan awal kultur campur T.versicolor, P.ostreatus, dan P.crysosporiummemberikan kualitas pulp yang lebih baik dibandingkan kultur tunggal ditinjau dari bilangan kappa, selektifitas delignifikasi dan rendemen. Masing-masing kombinasi perlakuan jamur memberikan respon yang berbeda. Terjadi peningkatan rendemen dibandingkan dengan kontrol. Jika ketiga spesies jamur
dicampur maka kurang berpengaruh positif terhadap kualitas pulp. Perlakuan kultur campur menyebabkan pulp lebih kasar yaitu terjadi peningkatan derajat giling. Sedangkan rendemen dan selektifitas delignifikasi meningkat, serta bilangan kappa menurun. Perlakuan jamur meningkatkan derajat giling pulp dibandingkan kontrol. Pencitraan SEM menunjukkan perlakuan kultur campur menyebabkan degradasi dinding sel bambu.
Bertambahnya lama inkubasi menyebabkan penurunan bilangan kappa, peningkatan selektifitas delignifikasi dan rendemen. Perlakuan terbaik adalah inokulasi secara bersamaan T.versicolor and P.crysosoporium dengan lama inkubasi 30 hari.

Kata kunci : jamur pelapuk putih, kultur campur, kraft pulping, bambu betung, kualitas pulp

 

Full Text:

PDF

Article Metrics


Abstract view : 256 times
PDF view : 532 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2010 JURNAL SELULOSA
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.